Page Nav

HIDE

Gradient Skin

Gradient_Skin

Pages

Responsive Ad

ADHD pada Anak dan Remaja: Gejala, Penyebab, dan Pengobatan yang Perlu Diketahui

Kabupaten.co.id - ADHD atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder adalah gangguan neurobiologis yang sering terjadi pada anak-anak dan ...


Kabupaten.co.id
- ADHD atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder adalah gangguan neurobiologis yang sering terjadi pada anak-anak dan dapat berlanjut hingga usia dewasa. Terdapat beberapa mitos seputar ADHD, salah satunya adalah pandangan bahwa hanya anak laki-laki yang dapat terkena gangguan ini, atau bahwa gula adalah penyebab utama dari ADHD. Artikel ini akan menjelaskan fakta-fakta tentang ADHD, termasuk gejalanya, penyebabnya, dan pilihan pengobatannya.

Gejala ADHD

ADHD dapat memengaruhi siapa pun, tanpa memandang jenis kelamin, meskipun biasanya mulai terlihat sejak usia dini. Gangguan ini melibatkan kesulitan dalam mempertahankan fokus perhatian, tingkat aktivitas yang tinggi, dan masalah kontrol impuls. Beberapa gejala umum ADHD meliputi:

Sulit Fokus: Anak-anak dengan ADHD cenderung mudah teralih dan seringkali lupa pada tugas-tugas atau instruksi yang diberikan. Mereka kesulitan mempertahankan perhatian pada satu hal untuk waktu yang lama.

Hiperaktivitas: Anak-anak dengan ADHD seringkali terlihat gelisah, sulit diam, dan selalu bergerak tanpa tujuan yang jelas. Mereka sulit untuk duduk diam dalam waktu yang lama.

Impulsivitas: Tingkat impulsivitas yang tinggi membuat anak-anak dengan ADHD sering bertindak tanpa memikirkan konsekuensinya terlebih dahulu. Mereka sulit menunggu giliran dan cenderung terburu-buru dalam mengambil keputusan.

Gejala ADHD dapat bervariasi dalam tingkat keparahan dan kombinasi yang dialami oleh setiap individu. Untuk mendapatkan diagnosis yang tepat dan penanganan yang sesuai, penting untuk berkonsultasi dengan profesional kesehatan yang terlatih dalam gangguan ini.

Penyebab ADHD

Meskipun penyebab pasti dari ADHD masih belum sepenuhnya dipahami, ada beberapa faktor yang diyakini berkontribusi terhadap kondisi ini. Beberapa di antaranya termasuk:

Kontaminasi Lingkungan: Paparan zat kimia tertentu pada masa kanak-kanak, terutama di lingkungan yang terkontaminasi dengan bahan beracun, dapat meningkatkan risiko terkena ADHD. Paparan ini dapat berdampak negatif pada perkembangan otak anak.

Genetika: Faktor genetik memainkan peran penting dalam kemungkinan seseorang mengalami ADHD. Riwayat keluarga dengan ADHD dapat meningkatkan risiko seseorang mengembangkan kondisi ini.

Kondisi Selama Kehamilan: Paparan zat berbahaya selama masa kehamilan dapat memengaruhi perkembangan otak janin dan meningkatkan risiko terjadinya ADHD pada anak.

Cedera Otak: Trauma kepala atau cedera otak serius lainnya juga dapat menjadi faktor risiko terjadinya ADHD.

Pengobatan ADHD

Pengobatan ADHD dapat melibatkan terapi farmakologi dan nonfarmakologi. Terapi farmakologi melibatkan penggunaan obat-obatan seperti methylphenidate dan amphetamine sulphate, yang dapat membantu mengatasi gejala ADHD. Penting untuk memonitor dosis obat secara hati-hati dan mendiskusikan efek sampingnya dengan dokter.

Selain itu, terapi nonfarmakologi juga penting dalam pengelolaan ADHD, terutama dengan melibatkan keluarga dalam peran yang mendukung. Terapi ini dapat membantu individu dengan ADHD mengembangkan strategi untuk mengurangi dan mengendalikan gejala mereka.

Dalam penanganan ADHD, penting untuk mencari bantuan dari profesional kesehatan yang berpengalaman dalam diagnosis dan perawatan gangguan ini. Dengan pendekatan yang tepat, individu dengan ADHD dapat mengelola gejala mereka dan mencapai kehidupan yang lebih baik.





Reponsive Ads